Senin, 23 November 2015

Kehormatan Dibalik Kerudung

Hari ini,,, saya merasakan sesuatu yang membuncah di dada. Entah apa namanya.. begitu rumit. Tapi saya sadar bahwa terkadang rasa itu tidak selamanya bisa terwakilkan dengan kata.
Jadi biarlah,,, tetap menjadi rasa di dada. Tanpa terucap di bibir.
Tentang rasa itu. Semakin lebat saat disela-sela menyelesaikan tugas, saya mencoba menonton “Kehormatan di Balik Kerudung”. Film ini lama ku dambakan, Tapi baru sekarang berkesempatan menontonnya. Film karya Tya Subiakto Satrio ini diadaptasi dari Novel Karya Ma’mun Affany. Tetapi sejujurnya saya tidak menontonnya sampai tuntas. Hanya pembukaannya saja. entah kenapa,,, saya kalah dengan perasaan sendiri. Ah,,, terlalu sentimentil mungkin. Tetapi memang demikianlah adanya. Awal saya melihat Syahdu (Donita) dalam Film itu biasa saja. tetapi kemudian tiba-tiba hati saya bergetar mengikuti dialog-dialog manis saat Syahdu bertemu seseorang (Andika Pratama) yang enggan menyebutkan nama. Percakapan yang singkat dan manis itu menggoda saya untuk menulis catatan ini. karena sungguh, saya menyukainya.

“Mbak cantik yah,, saya foto boleh nggak,,, saya wartawan lo.. nanti biar saya masukin ke majalah saya.” Mendengar itu, syahdu terlihat gugup. Lalu berpaling ke arah lain sambil menutupi sebagian wajah dengan kerudungnya. Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum sambil bilang “fine”.
“Mbak kenapa terlihat tegang. Apa saya aneh? Anggap saja saya ini teman lama, karena kita bertemu hanya sekali ini saja.”
“Mengapa Mas bicara seperti itu? Bukankah sekarang dunia seakan sempit? Jarak bisa dipangkas oleh waktu Mas”
“Mbak pantas bicara seperti itu. Tapi perasaan tidak bisa diabaikan.”
“Maksudnya?”
“Dari awal saya duduk di sini. Saya sudah terkesan melihat mbak. Saya terkesan dengan wewangian yang mbak kenakan. Saya terkesan dengan dua mata indah di bawah alis tebal. Saya terkesan dengan wajah mbak yang merona.”
“eem… lalu,,?”
“Justru itu,, saya tidak ingin berkenalan.” Pemuda itu kemudian menghadap ke arah lain. Tapi syahdu mengulurkan tangan mengajak salaman sembari menyebutkan namanya “Syahdu”. Pemuda itu tersenyum sambil melambaikan tangan karena tidak mau salaman. Hanya mengangkat topinya sebentar tanda menerima perkenalan.
“Namamu siapa?” Tanya Syahdu.
“Kalau kita saling kenal lalu kita tidak akan bertemu lagi, itu hanya akan menyisakan bayangan.”
“Mengapa kita tidak berusaha untuk mengenal. Lalu berusaha untuk bertemu?”
“Karena pertemuan pertama akan menyisakan rasa penasaran. Dan pertemuan kedua akan menyisakan rasa rindu. Dan saya tidak mau merindu.”
“Maksudnya?” hening sejenak.
“Biar takdir yang mempertemukan kita. saya akan mengingat wajah mbak… Kalaupun mbak tidak ingat wajah saya, yang penting saya mengingat nama, SYAHDU.”
“Semoga kita bisa bertemu lagi.”
“Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kita.”
“Maksudnya?” syahdu mulai penasaran. Tapi kereta keburu datang. saat syahdu menoleh ke arah kereta. Pemuda itupun pergi. Syahdu tidak tahu kemana. Tiba-tiba pemuda itu hilang. Hanya buku catatan sang pemuda itu yang tertinggal di bangku taman. Lalu syahdu mengambilnya. Membawanya naik kereta. Membukanya. Membaca sebuah puisi manis yang singkat.
""Aku tidak menyesali perpisahan karena Pertemuan kita sebuah ketidaksengajaan Waktu berputar tak akan pernah berhenti Arah menunjuk kemana hati mencari Jika nasib sakti bertitah Tak ada halangan untuk menyapa kembali""
Sampai di sini,,, perasaan saya semakin teraduk. Entah kenapa,,, saya tidak sanggup melanjutkan menonton Film ini. Rasa penasaran tetap kalah dengan rasa tak menentu yang entah apa namanya ini,,, lalu gerimis itupun turun. menyuburkan rindu.

Senin, 16 November 2015

Alamku Merona

Pagi menyambut dengan senyuman hangat bagi penduduk bumi
Sang surya telah menampakkan wajahnya
Sedikit demi sedikit terpancar kehijauan merona seolah menatap dari kejauhan
Embun pun mulai menyapa…  Selamat datang wahai insan       
Sang mahkota bunga pun mulai berkaca
Merekah dan kemilau warnanya bagaikan intan
Sungguh terlena hati ini…   Memandang serumpun hijau memenuhi teras

Senin, 09 November 2015

Masa Laluku


Aku adalah seorang anak manusia
Yang terlahir dari keadaan suci
Yang terlahir dari keadaan bersih tanpa dosa sekecilpun

Kata mereka...
Aku anak yang lucu dan aku anak yang dimanja
Mereka senang kepadaku karena aku imut dan bersih
Tapi itu hanya masa laluku...
Itu hanyalah cerita lalu yang unik yang mungkin tidak ingin kuingat

Ketika aku sekolah...
Mulailah aku yang sebenarnya Aku mulai berbuat semaunya...
Aku mulai membantah ayahku
Aku mulai melawan nasihat ibuku
Aku mulai suka kesenangan dan menghasut
Kejadian itu terjadi terus – menerus dalam hidupku

Sampai Aku pernah di masukkan kepenjara dik

                                By. Hidayat

Minggu, 08 November 2015

Syukur Barokah

Suatu siang yang panas di penjualan kambing kurban, waktu itu seorang akhwat minta ditemeni beli kambing untuk aqiqah putrinya…

Setelah pilih-pilih kambing, ane liat kambing yang paling bagus ‘n gemuk, temen ane nawar harganya, ehh … ternyata terlalu mahal untuk ukuran kantong temen ane…
Tiba-tiba datang seorang nenek tua, kira-kira berusia 70 tahunan, ternyata dia mau beli kambing juga, dan milih kambing yang ane pilih.
Iseng-iseng ane tanya, “buat apa kambingnya nek?”, si nenek bilang kalau dia mau beli kambing buat kurban.
Trus ane tanya lagi, “kok belinya sendiri emangnya nggak ada anak, atau saudara nenek yang mau nganterin untuk beli kambing.??? “
Ehhh, ternyata si nenek udah lama hidup sebatang kara, ‘n untuk ngidupin kebutuhan sehari-hari dia jualan sapu lidi yang dibuatnya sendiri dari pelepah daun kelapa dan daun pisang.
Iseng-iseng ane tanya , “Subhanallah yach nek, nenek masih sanggup berkorban.” Si nenek pun tersenyum ‘n ini satu hal yang nggak bisa ane lupain , ternyata si nenek bukan saat itu
saja berkorban tapi sudah beberapa tahun ia berkorban.
Teman,
ternyata dia menabung setiap hari seribu rupiah, hasil menjual sapu lidi dan daun-daun pisang. trus dia bilang , “neng , gusti Allah sudah demikian sayang sama nenek, tiap hari Dia memberi nenek nikmat-nikmat yang hanya dapat nenek hargai dengan seribu rupiah sehari, neng kalau Dia memberi rezeki lebih, sebenarnya nenek ingin pergi haji, tapi neng tahu sendiri ongkos ke sana berapa dan fisik nenek udah nggak memungkinkan … Nenek tahu gusti Allah Maha kaya dan nggak perlu dengan unag seribu yang nenek korbani tiap hari, tapi hanya ini yang bisa nenek korbankan untuk membalas setiap nikmatNya…
Teman,
Ane jadi malu pada diri ane sendiri , ternyata seorang nenek mau bersusah payah berkorban tiap tahun untuk membalas berjuta nikmat yang telah dilimpahkanNYa tiap hari, sedang ane
yang telah di beri rezeki/gaji lebih terkadang masih merasa sayang, bila harus membeli kambing untuk berkorban. Padahal kita sadar berqurban itu adalah perintah ALLOH.
Walaupun peristiwa ini sudah terjadi 5 tahun yang lalu tapi kalau idul adha tiba ane selalu teringat sama si nenek… dia masih hidup nggak yach…???
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…