Hari
ini,,, saya merasakan sesuatu yang membuncah di dada. Entah apa
namanya.. begitu rumit. Tapi saya sadar bahwa terkadang rasa itu tidak
selamanya bisa terwakilkan dengan kata.
Jadi biarlah,,, tetap menjadi rasa di dada. Tanpa terucap di bibir.
Tentang rasa itu. Semakin lebat saat disela-sela menyelesaikan tugas, saya mencoba menonton “Kehormatan di Balik Kerudung”. Film ini lama ku dambakan, Tapi baru sekarang berkesempatan menontonnya. Film karya Tya Subiakto Satrio ini diadaptasi dari Novel Karya Ma’mun Affany. Tetapi sejujurnya saya tidak menontonnya sampai tuntas. Hanya pembukaannya saja. entah kenapa,,, saya kalah dengan perasaan sendiri. Ah,,, terlalu sentimentil mungkin. Tetapi memang demikianlah adanya. Awal saya melihat Syahdu (Donita) dalam Film itu biasa saja. tetapi kemudian tiba-tiba hati saya bergetar mengikuti dialog-dialog manis saat Syahdu bertemu seseorang (Andika Pratama) yang enggan menyebutkan nama. Percakapan yang singkat dan manis itu menggoda saya untuk menulis catatan ini. karena sungguh, saya menyukainya.
“Mbak cantik yah,, saya foto boleh nggak,,, saya wartawan lo.. nanti biar saya masukin ke majalah saya.” Mendengar itu, syahdu terlihat gugup. Lalu berpaling ke arah lain sambil menutupi sebagian wajah dengan kerudungnya. Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum sambil bilang “fine”.
“Mbak kenapa terlihat tegang. Apa saya aneh? Anggap saja saya ini teman lama, karena kita bertemu hanya sekali ini saja.”
“Mengapa Mas bicara seperti itu? Bukankah sekarang dunia seakan sempit? Jarak bisa dipangkas oleh waktu Mas”
“Mbak pantas bicara seperti itu. Tapi perasaan tidak bisa diabaikan.”
“Maksudnya?”
“Dari awal saya duduk di sini. Saya sudah terkesan melihat mbak. Saya terkesan dengan wewangian yang mbak kenakan. Saya terkesan dengan dua mata indah di bawah alis tebal. Saya terkesan dengan wajah mbak yang merona.”
“eem… lalu,,?”
“Justru itu,, saya tidak ingin berkenalan.” Pemuda itu kemudian menghadap ke arah lain. Tapi syahdu mengulurkan tangan mengajak salaman sembari menyebutkan namanya “Syahdu”. Pemuda itu tersenyum sambil melambaikan tangan karena tidak mau salaman. Hanya mengangkat topinya sebentar tanda menerima perkenalan.
“Namamu siapa?” Tanya Syahdu.
“Kalau kita saling kenal lalu kita tidak akan bertemu lagi, itu hanya akan menyisakan bayangan.”
“Mengapa kita tidak berusaha untuk mengenal. Lalu berusaha untuk bertemu?”
“Karena pertemuan pertama akan menyisakan rasa penasaran. Dan pertemuan kedua akan menyisakan rasa rindu. Dan saya tidak mau merindu.”
“Maksudnya?” hening sejenak.
“Biar takdir yang mempertemukan kita. saya akan mengingat wajah mbak… Kalaupun mbak tidak ingat wajah saya, yang penting saya mengingat nama, SYAHDU.”
“Semoga kita bisa bertemu lagi.”
“Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kita.”
“Maksudnya?” syahdu mulai penasaran. Tapi kereta keburu datang. saat syahdu menoleh ke arah kereta. Pemuda itupun pergi. Syahdu tidak tahu kemana. Tiba-tiba pemuda itu hilang. Hanya buku catatan sang pemuda itu yang tertinggal di bangku taman. Lalu syahdu mengambilnya. Membawanya naik kereta. Membukanya. Membaca sebuah puisi manis yang singkat.
""Aku tidak menyesali perpisahan karena Pertemuan kita sebuah ketidaksengajaan Waktu berputar tak akan pernah berhenti Arah menunjuk kemana hati mencari Jika nasib sakti bertitah Tak ada halangan untuk menyapa kembali""
Sampai di sini,,, perasaan saya semakin teraduk. Entah kenapa,,, saya tidak sanggup melanjutkan menonton Film ini. Rasa penasaran tetap kalah dengan rasa tak menentu yang entah apa namanya ini,,, lalu gerimis itupun turun. menyuburkan rindu.
Jadi biarlah,,, tetap menjadi rasa di dada. Tanpa terucap di bibir.
Tentang rasa itu. Semakin lebat saat disela-sela menyelesaikan tugas, saya mencoba menonton “Kehormatan di Balik Kerudung”. Film ini lama ku dambakan, Tapi baru sekarang berkesempatan menontonnya. Film karya Tya Subiakto Satrio ini diadaptasi dari Novel Karya Ma’mun Affany. Tetapi sejujurnya saya tidak menontonnya sampai tuntas. Hanya pembukaannya saja. entah kenapa,,, saya kalah dengan perasaan sendiri. Ah,,, terlalu sentimentil mungkin. Tetapi memang demikianlah adanya. Awal saya melihat Syahdu (Donita) dalam Film itu biasa saja. tetapi kemudian tiba-tiba hati saya bergetar mengikuti dialog-dialog manis saat Syahdu bertemu seseorang (Andika Pratama) yang enggan menyebutkan nama. Percakapan yang singkat dan manis itu menggoda saya untuk menulis catatan ini. karena sungguh, saya menyukainya.
“Mbak cantik yah,, saya foto boleh nggak,,, saya wartawan lo.. nanti biar saya masukin ke majalah saya.” Mendengar itu, syahdu terlihat gugup. Lalu berpaling ke arah lain sambil menutupi sebagian wajah dengan kerudungnya. Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum sambil bilang “fine”.
“Mbak kenapa terlihat tegang. Apa saya aneh? Anggap saja saya ini teman lama, karena kita bertemu hanya sekali ini saja.”
“Mengapa Mas bicara seperti itu? Bukankah sekarang dunia seakan sempit? Jarak bisa dipangkas oleh waktu Mas”
“Mbak pantas bicara seperti itu. Tapi perasaan tidak bisa diabaikan.”
“Maksudnya?”
“Dari awal saya duduk di sini. Saya sudah terkesan melihat mbak. Saya terkesan dengan wewangian yang mbak kenakan. Saya terkesan dengan dua mata indah di bawah alis tebal. Saya terkesan dengan wajah mbak yang merona.”
“eem… lalu,,?”
“Justru itu,, saya tidak ingin berkenalan.” Pemuda itu kemudian menghadap ke arah lain. Tapi syahdu mengulurkan tangan mengajak salaman sembari menyebutkan namanya “Syahdu”. Pemuda itu tersenyum sambil melambaikan tangan karena tidak mau salaman. Hanya mengangkat topinya sebentar tanda menerima perkenalan.
“Namamu siapa?” Tanya Syahdu.
“Kalau kita saling kenal lalu kita tidak akan bertemu lagi, itu hanya akan menyisakan bayangan.”
“Mengapa kita tidak berusaha untuk mengenal. Lalu berusaha untuk bertemu?”
“Karena pertemuan pertama akan menyisakan rasa penasaran. Dan pertemuan kedua akan menyisakan rasa rindu. Dan saya tidak mau merindu.”
“Maksudnya?” hening sejenak.
“Biar takdir yang mempertemukan kita. saya akan mengingat wajah mbak… Kalaupun mbak tidak ingat wajah saya, yang penting saya mengingat nama, SYAHDU.”
“Semoga kita bisa bertemu lagi.”
“Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kita.”
“Maksudnya?” syahdu mulai penasaran. Tapi kereta keburu datang. saat syahdu menoleh ke arah kereta. Pemuda itupun pergi. Syahdu tidak tahu kemana. Tiba-tiba pemuda itu hilang. Hanya buku catatan sang pemuda itu yang tertinggal di bangku taman. Lalu syahdu mengambilnya. Membawanya naik kereta. Membukanya. Membaca sebuah puisi manis yang singkat.
""Aku tidak menyesali perpisahan karena Pertemuan kita sebuah ketidaksengajaan Waktu berputar tak akan pernah berhenti Arah menunjuk kemana hati mencari Jika nasib sakti bertitah Tak ada halangan untuk menyapa kembali""
Sampai di sini,,, perasaan saya semakin teraduk. Entah kenapa,,, saya tidak sanggup melanjutkan menonton Film ini. Rasa penasaran tetap kalah dengan rasa tak menentu yang entah apa namanya ini,,, lalu gerimis itupun turun. menyuburkan rindu.



